PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SİNGKATAN LEKSIKAL DALAM KONTEKS BIPA
Keywords:
abreviasi, akronim, singkatan campuran, singkatan parsial, singkatan teleskopikAbstract
Menurut prinsip fonetik, singkatan atau abreviatur dibagi menjadi grafis dan leksikal. Singkatan grafis (seperti dsb < dan sebagainya) hanya digunakan dalam teks tertulis dan tidak memiliki bentuk suara, sedangkan singkatan leksikal merupakan kompleks bunyi yang berdiri sendiri dan dapat diucapkan. Dalam suatu bahasa, singkatan leksikal dibentuk menurut pola tertentu dan bergantung pada jenis satuan sumbernya. Namun, ketika mengklasifikasikan singkatan bahasa Indonesia, tidak selalu mungkin untuk menelusuri pola yang satu atau yang lain. Makalah ini berupaya menemukan ciri-ciri umum klasifikasi singkatan leksikal. Menurut struktur pembentukannya, ada lima jenis singkatan leksikal: singkatan inisial (atau akronim), singkatan suku kata, singkatan fragmentaris atau teleskopik, singkatan campuran dan singkatan parsial. Masing-masing jenisnya mencakup sejumlah jenis struktural yang dibentuk dengan cara tertentu. Akronim dibentuk dari huruf atau bunyi inisial pada kata-kata yang disingkat. Kami telah menentukan jenis-jenis strukturnya seperti akronim huruf (MPR [em’pe’er] < Majelis Permusyawaratan Rakyat), akronim bunyi (APİ < Angkatan Pemuda Indonesia), dan akronim bunyi dan huruf (di dalamnya, beberapa huruf diucapkan berdasarkan namanya, dan yang lainnya dengan bunyinya: IAIN [i’a’in] < Institut Agama Islam Negeri). Singkatan suku kata dibentuk dari gabungan suku kata yang menempati posisi awal (eksim < ekspor-impor) atau posisi akhir (danmen < komandan keuntungan) pada kata-kata yang disingkat. Teleskopi merupakan perpaduan dua atau lebih kata atau batangnya yang terpotong (terfragmentasi), sehingga menghasilkan pembentukan kata baru. Fragmen dalam berbagai komponen singkatan teleskopik dapat sama dengan suku kata, lebih atau kurang dari suku kata (SUM < staf umum, Sulteng < Sulawesi Tengah; Deptan < Departemen Pertanian, Germindo < Gerakan Mahasiswa Indonesia, dishumas < dinas hubungan masyarakat). Singkatan campuran dibentuk dari gabungan satu komponen penuh dan satu atau lebih fragmen komponen-komponen, serta dari gabungan beberapa singkatan (Jokowi < Joko Widodo, İndomie < Indonesian mie, Menkeh HAM < Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia). Singkatan parsial terdiri dari bagian awal komponen pertama frasa aslinya (Pram < Pramudya Ananta Tur). Jenis struktur yang telah ditentukan memungkinkan kita untuk menyimpulkan bahwa pembentukan singkatan dalam bahasa Indonesia cenderung memiliki struktur yang dapat diucapkan sebagai sebuah kata, karena sebagian besar akronim dan ragam singkatan lainnya serta semua singkatan teleskopik dibentuk persis seperti sebuah kata. Singkatan-singkatan ini disusun sebagai sebuah kata sedemikian rupa sehingga frasa aslinya dapat dengan mudah dikenali dari komposisi fonemiknya. Inilah sebabnya fragmen-fragmen tersebut diambil dari bagian-bagian berbeda dari komponen-komponen frasa aslinya. Orang asing yang belajar bahasa Indonesia, dapat memperkaya kosa katanya secara signifikan dengan menguasai aturan-aturan ini.